Tadabbur berasal dari kosa kata bahasa Arab تَدَبَّرَ – يَتَدَبَّرُ – تَدَبُّرًا yang memiliki arti memikirkan tentang sesuatu. Abu Hilal al-Askari dalam al-Furuq al-Lughawiyah menyatakan bahwa perbedaan antara tafakkur dan tadabbur adalah objek yang diangankan atau difikirkan. Tadabbur lebih kepada akibat dari sesuatu, sedang tafakkur lebih kepada petunjuk-petunjuk sesuatu. Sedang dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), tadabbur diartikan “merenung” dan dikaitkan dengan makna ayat-ayat al-Qur’an.
Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui maksud dan makna dari sesuatu secara mendalam.
Q.S Muhammad : 24
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Terjemah : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?
Referensi: https://tafsirweb.com/9660-surat-muhammad-ayat-24.html
Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah :
Allah memerintahkan untuk mentadabburi ayat Al Qur’an dan memahaminya dan melarang dari ingkar kepada ayat Al Qur’an, Allah berkata : Apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an, dan menjadikan akalnya serta pikiran-pikirannya berpikir atasnya ?! Akan tetapi hati-hati mereka terkunci, sehingga mereka tidak paham dan berpikir.
Referensi: https://tafsirweb.com/9660-surat-muhammad-ayat-24.html
Berdasarkan keterangan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa kita harus bisa mentadabburi atau memahami ayat-ayat Al-Qur'an bukan hanya sekedar membacanya saja.

No comments:
Post a Comment